( 13-October-2017 ) Workshop Peningkatan Kapasitas Provinsi untuk Penyusunan RAD AMPL Bagi Kamputen Lama Program Pamsimas III Tahun 2017 | ( 13-October-2017 ) Workshop Peningkatan Kapasitas Provinsi untuk Penyusunan RAD AMPL Bagi Kamputen Baru Program Pamsimas III Tahun 2017 | ( 13-October-2017 ) Setelah Sukses di Desa Kohod, Kampung Sejahtera Akan Diduplikasi di NTT dan Kaltara | ( 05-October-2017 ) Presiden Joko Widodo Hadiri Aksi Nasional Pemberantasan Obat dan Penyalahgunaan Obat di Cibubur | ( 02-October-2017 ) Mendagri Jadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Taman Makam Pahlawan Kalibata | ( 02-October-2017 ) Indonesia Defisit Petani Muda |


BANTUL, YOGYAKARTA – Pada Dies Natalis Institut Pertanian Bogor ke-54 pada Rabu, (6/9/2017) lalu, Presiden Joko Widodo menyayangkan banyak lulusan pertanian yang kerja di bank. Menurut Presiden, sarjana lulusan pertanian diperlukan untuk tatap fokus di sektor tersebut untuk mengembangkan sektor pertanian di Indonesia. (Kompas, 7 September 2017).

Saat ini, persentase petani muda jauh lebih sedikit dibandingkan petani yang berpengalaman atau lanjut usia. Dwi Andreas, pakar pertanian dan dosen IPB mengatakan hanya 8 % generasi muda di bawah 35 tahun yang berkecimpung di dunia pertanian. Selebihnya, lulusan pertanian lebih memilih bekerja di luar sektor pertanian karena berbagai pertimbangan.

Mengingat minimnya jumlah petani muda serta berbagai permasalahan lainnya di sektor pertanian, pemerintah berupaya menggulirkan berbagai program yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani sehingga dapat menjaga ketahanan pangan dan gizi di Indonesia. Salah satu program yang dimaksud yaitu kegiatan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kelompok tani dan rehabilitasi lahan kritis.

Pada Selasa, (26/9/2017), Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bersama Kantor Staf Presiden melakukan rapat koordinasi dengan Bappeda Bantul guna membahas rencana program yang akan dilaksanakan di Bantul, Yogyakarta. Rapat tersebut dilaksanakan di Bappeda Bantul, Komplek Parasamya, Jalan RW. Mongonsidi No. 1, Bantul,  Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rapat tersebut juga turut dihadiri oleh Organization OISCA (Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement) yang menjadi mitra pemerintah Indonesia dalam mengembangkan sektor pertanian di Indonesia. Sebagai informasi, OISCA merupakan suatu organisasi internasional nirlaba yang berpusat di Jepang dan memiliki banyak cabang yang tersebar di berbagai negara terutama di kawasan Asia Pasifik dan Amerika Latin. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan semangat dan budaya berkarya pada masyarakat dunia, khususnya masyarakat negara-negara berkembang.

Berkaitan dengan lahan kritis di Bantul, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul, Fenty Yusdayati mengatakan bahwa ada 17 kecamatan di kabupaten Bantul yang kondisi geografisnya tidak menguntungkan atau kritis, salah satunya daerah Imogiri. “Saya harap program nanti yang akan dijalankan di Imogiri dapat membantu percepatan program bupati Bantul dalam hal menekan angka ketimpangan di kabupaten Bantul,” ujar Fenty.

Senada dengan apa yang disampaikan Fenty, perwakilan Kantor Staf Presiden, Monika mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo berharap agar pemerintah dapat meningkatkan kesejahteraan petani. “Jika petani tidak sejahtera, maka petani muda tidak akan tertarik untuk berkecimpung di sektor pertanian,” kata Monika.  

Menjawab tantangan tersebut, menurut Monika, penyuluh profesional dibutuhkan oleh petani, salah satunya dari OISCA International. Sebelumnya, OISCA telah sukses melakukan pelatihan integrated farming selama sembilan bulan di Sukabumi, Jawa Barat dan Solo, Jawa tengah. “OISCA bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produktivitas petani, khususnya petani muda. Permasalahan mengenai sumber daya petani muda menjadi hal yang krusial tidak hanya bagi pemerintah Indonesia melainkan juga bagi pemerintah Jepang,” imbuh Monika.

Rencana kegiatan yang akan dilakukan yaitu mengidentifikasi lahan kritis di Bantul dan 47 daerah yang menjadi project Bina Bangda. Petani-petani muda akan dilatih oleh OISCA, misalnya sekitar 90 petani. Selanjutnya, OISCA akan mengirim pendamping ke tempat-tempat project Bina Bangda. Mereka akan dilatih dalam hal pemanfaatan teknologi dan sebagainya untuk meningkatkan produktivitas petani.

Setelah melakukan rapat koordinasi dengan Bappeda kabupaten Bantul, tim yang terdiri dari perwakilan Ditjen Bina Bangda, KSP, serta OISCA melakukan kunjugan ke project rehabilitasi lahan kritis yang berlokasi di dusun Nawungan I, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adapun yang menjadi inti dari rapat dengar pendapat antara tim yang terdiri dari perwakilan Ditjen Bina Bangda, KSP, serta OISCA dengan kelompok tani adalah sebagai berikut: a) kelompok tani menjelaskan bahwa kondisi lahan di dusun Nawungan dikategorikan sebagai lahan kritis karena hampir tidak ada sumber mata air; b) beberapa jenis tanaman yang ditanam oleh petani antara lain lengkeng, durian, pisang, kayu jati, dan buah-buahan tropis lainnya. Sebelumnya, masyarakat setempat sudah pernah mendapatkan bantuan sumur bor dari PDAM, namun karena memang tidak ada sumber mata air, sumur bor tersebut kurang berfungsi dengan baik; c) kelompok tani setempat berharap lahan kritis dapat digarap untuk menghasilkan produk pertanian yang bernilai sehingga dapat menyetahterakan mereka; serta d) OISCA membuka kesempatan bagi petani di kabupaten Bantul agar mendapatkan pelatihan pengelolaan lahan kritis secara langsung di Jepang.

Setelah rapat dengar pendapat dan kunjungan lapangan, tim yang terdiri dari Ditjen Bina Bangda, KSP, serta OISCA akan melakukan tindak lanjut dengan menyusun blue print agar kegiatan di kabupaten Bantul dapat segera dieksekusi. [Mahfud Achyar]

 

about author

Link Terkait