( 13-October-2017 ) Workshop Peningkatan Kapasitas Provinsi untuk Penyusunan RAD AMPL Bagi Kamputen Lama Program Pamsimas III Tahun 2017 | ( 13-October-2017 ) Workshop Peningkatan Kapasitas Provinsi untuk Penyusunan RAD AMPL Bagi Kamputen Baru Program Pamsimas III Tahun 2017 | ( 13-October-2017 ) Setelah Sukses di Desa Kohod, Kampung Sejahtera Akan Diduplikasi di NTT dan Kaltara | ( 05-October-2017 ) Presiden Joko Widodo Hadiri Aksi Nasional Pemberantasan Obat dan Penyalahgunaan Obat di Cibubur | ( 02-October-2017 ) Mendagri Jadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Taman Makam Pahlawan Kalibata | ( 02-October-2017 ) Indonesia Defisit Petani Muda |


Membaca buku ini selayaknya mendengar Lukas sedang bertutur lepas tanpa beban dengan sesekali menceritakan pengalaman kecilnya di pegunungan. Sosok pribadi yang lahir dalam kabut dan kerasnya alam Papua, ditempa dengan segala kesulitan, merubahnya menjadi tantangan dan membuktikan semua mimpi-mimpinya menjadi nyata.  Buku ini dapat dikatakan sebagai media komunikasi politik Lukas, baik ia sebagai politisi, Gubernur dan juga tokoh Papua yang dengan lugas dan berani “menantang” dinamika politik yang terjadi di Papua.

Lukas membuka buku ini dengan menceritakan bagaimana indahnya Papua dengan hamparan hutan lebat, lautan, pulau dan garis pantai yang panjang di bagian barat, utara, selatan Tanah Papua, dan juga kekayaan alam Papua yang telah dieksploitasi selama bertahun-tahun tetapi tidak mendatangkan kesejahteraan dan kemuliaan bagi orang asli Papua.

Lukas dalam buku ini juga membahas begitu banyaknya persoalan di masa lalu yang belum selesai. Era DOM dan “buah” yang dilahirkannya yaitu pelanggaran HAM masih menyimpan luka mendalam. Belum lagi sikap setengah hati pemerintah Jakarta dalam menyelesaikan persoalan HAM dan tak jelasnya agenda rekonsiliasi di tanah Papua. Rekonsiliasi menurut Lukas harus berangkat pada prinsip-prinsip keadilan dan juga pengungkapan kebenaran.

Mengenai Isu kemerdekaan Papua dan hak jajak pendapat tidak terlepas dari banyaknya persoalan dan janji Pemerintah Jakarta yang tak pernah terwujud. Sentimen negatif dan keinginan merdeka tentunya dapat menjadi perenungan bersama, bahwa ada sesuatu di Papua, dan Lukas di dalam buku ini telah menyampaikan pandangannya, baik sebagai pribadi, politisi dan juga Gubernur Papua bahwa NKRI adalah pilihan terbaik saat ini.  Dalam buku ini Lukas mengajak pembaca untuk memahami bagaimana (orang) Papua melihat Indonesia dan bagaimana Jakarta (politik) dalam melihat Papua.

Buku ini bertutur bagaimana “Memahami Papua” menurut orang Papua itu sendiri, bukan menurut siapa pun, apalagi yang hanya memiliki kepentingan ekonomi semata. Di Bagian II, Lukas dengan lugas bagaimana Papua telah memberikan kontribusi yang nyata (besar) dalam sebuah negara yang bernama Indonesia, tentunya Papua juga membutuhkan peran Negara (Indonesia) dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bagi orang Asli Papua yang masih terbelit yaitu kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, keterisolasian dan ketidakadilan.

Lukas di buku ini mengingatkan bagaimana pentingnya dan mendorong integrasi Papua dalam konteks kebudayaan Papua yang tak terpisahkan dalam nilai-nilai kebudayaan nasional. Emas Papua bisa saja habis, tetapi kebudayaan Papua tidak akan pernah hilang ataupun dirampas oleh siapa pun. Bagi Lukas semangat menjadi bagian “Nation Building Indonesia” tentunya harus mendapatkan dukungan dari semua kekuatan sosial-politik-agama di Indonesia dan menjadikan Papua sebagai saudara sebangsa, tanpa melihat warna kulit, dan juga agamanya.

Lukas dalam catatannya mengenai Otsus dan perannya selama 15 tahun dalam pembangunan Papua tentu selalu menjaga semangat dan keinginan dari 100 tokoh Papua yang disampaikan secara langsung kepada Habibie yang menginginkan hadirnya peran, tugas dan fungsi negara dalam mewujudkan keadilan, kesejahteraan, perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, dan kesetaraan. Menurut Lukas, Otsus Papua tidaklah gagal, tetapi membutuhkan penataan ulang mengenai otonomi khusus tersebut.  Lukas beranggapan Otsus yang telah berjalan selama 15 tahun lebih tidak lagi dapat menjawab perubahan dan tantangan jaman yang begitu cepat, dan Papua membutuhkan pijakan dan dasar hukum yang lebih fleksibel dan dapat membuat Papua lebih cepat berbenah menyongsong “Gerbang Mas Hasrat Papua” yang menjadi program kerja Lukas dalam mewujudkan kesejahteraan ditanah Papua.

Lukas di dalam buku ini mengajak Jakarta melihat persoalan dan tantangan di Papua secara khusus dan terpadu, dan perlunya regulasi kebijakan khusus yang tetap berangkat dari jiwa Otsus. Bagi Lukas dalam menyongsong “Gerbang Mas Hasrat Papua”, Papua membutuhkan kewenangan yang lebih luas, dan spesifik. Dalam konteks kewenangan, Lukas menyampaikan setidaknya terdapat 28 sektor strategis pembangunan yang dapat dikelola langsung oleh Pemda Papua dan menjadi titik awal momentum pembangunan di Papua. Menurut Lukas, masyarakat Papua sudah sangat siap, percaya diri, dan memiliki keinginan kemandirian dalam mengelola semula potensi yang ada di Papua.

Dibuku ini juga disampaikan bagaimana mengeliatnya ekonomi Papua yang dibawa oleh orang asli Papua, pendekatan dan penghormatan masyarakat adat menjadi bagian dari pembangunan Papua. Hadirnya Perdasus nomor 18 tahun 2008 telah menjadi payung hukum perlindungan terhadap ekonomi orang asli Papua, dan juga upaya membangun jaringan ekonomi yang dapat mempercepat pembangunan sektor-sektor ekonomi. Bagi Lukas tolak ukur keberhasilan ekonomi jika tercipta dan berhasilnya pengusaha asli Papua yang menjadi inspirasi dan juga lokomotif percepatan kesejahteraan orang Asli Papua.

Dalam upaya mempercepat kemajuan di Papua, Lukas sedang membangun “Gerbang Mas Hasrat Papua”, salah satunya adalah membangun generasi yang intelek, mandiri, tangguh dan ulet yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan juga membangun Papua di masa depan. Skema 80:20, dimana porsi anggaran pembangunan yang tersebar untuk Kabupaten/Kota membuktikan keseriusan Lukas dalam menjawab permasalahan pokok (Pendidikan dan kesehatan) yang banyak terjadi di wilayah-wilayah terpencil, baik itu di pegunungan, kampung-kampung, dam juga distrik terpencil.

Isu yang tidak kalah seksinya tentunya diangkat oleh Lukas dalam bagian ke tujuh dibuku ini bagaimana hadirnya Freeport dalam konteks pembangunan Papua dan isu pembangunan smelter. Sudah bukan rahasia lagi jika orang Papua sendiri selama puluhan tahun dalam eksploitasi penambangan di Timika tidak mengetahui secara pasti apa saja kekayaan yang terkandung didalam tanah mereka, dan apa saja yang selama ini telah diambil dari mereka, dan bagi Lukas, Papua selama ini telah dibohongi. Bagi orang asli Papua, kekayaan alam ini tentunya digunakan untuk mengangkat kesejahteraan orang asli Papua yang masih terbelenggu dalam kemiskinan, kebodohan dan keterisolasian. Masih banyaknya orang asli Papua yang terisolasi di kampung-kampung dan pegunungan tanpa akses kesehatan, dan pendidikan membuktikan bahwa kontribusi dari kekayaan alam Papua selama ini hanya untuk kepentingan penguasa saja.  

Dalam menjawab renegoisasi perpanjangan kontrak karya, Lukas dalam sikap politiknya meminta Pemerintah Jakarta dan Freeport memperhatikan dan mendukung terwujudnya 17 tuntutan rakyat sebagai pemilik sah kekayaan alam tersebut. Lukas berpandangan bahwa 17 tuntutan rakyat tersebut dapat menjadi jalan mewujudkan kesejahteraan, perlindungan alam terhadap kerusakan, penghormatan terhadap tanah Adat, kontribusi Freeport bagi pembangunan infrastruktur dan terpenting menjadikan semua orang Papua menjadi bagian dari penataan pembangunan Papua yang sejahtera, mandiri dan bangkit.

Buku ini dapat menjadi semacam progress report Lukas selama menjabat sebagai Gubernur Papua, dan juga membuka pandangan baru mengenai Papua. Dinamika, ancaman, tantangan dan masa depan Papua dalam buku ini telah kita “dengar” langsung dari orang asli Papua itu sendiri. Sebagai orang yang berasal dari pegunungan dan satu-satunya yang berhasil menjadi Gubernur Papua tentunya memberikan gambaran kepada para pembaca bahwa, Papua bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun dapat mengejar ketertinggalannya dan melaju lebih cepat dari provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Dengan motivasi yang tinggi, terbangunnya solidaritas sosial orang asli Papua, dan juga keinginan mandiri dan maju dapat menjadi pemicu dalam meledakkan semua potensi yang dimiliki oleh Papua.

Membaca buku “Papua antara Uang dan Kewenangan” berhasil mengaduk-aduk emosi para pembaca mengenai begitu rumit, kompleks, dan juga perasaan kecewa yang begitu dalam yang masih tersimpan begitu dalam di hati orang asli Papua. Lukas dalam perjuangannya telah membuktikan satu hal yang terpenting dan utama, bahwa jalan perjuangan yang ditempuhnya, adalah jalan yang damai dan tanpa kekerasan, dan menolak praktik kekerasan, intimidasi dan ancaman dalam membungkam suara keadilan yang terdengar dari tanah paling Timur di Indonesia. 

about author

Link Terkait